Selasa, 27 Maret 2012
DEMO >DEMOCRASI atau DEMO CRAZY
Baru baru in kita membaca berita dan cerita yang masuk ke bbm (blackb mesgr), selain itu pengetahuan yang terdapat dari televisi dn koran beraneka ragam. Banyak orang kritik dan protes dengan alasan, tidak ada kerugian sebenarnya yang di alami pemerintah; hal tersebut hanya sebagai alasan untuk menambah pendapatan dlm pemerintahan. mereka berargumentasi pula; mengapa pemerintah tidak dapat atasi korupsi yang meraja-lela secara besar- besaran untuk memperkuat keuangan negara. Sementara itu ada yang sepakat kenaikan harga bbm berdasarkan alasannya bahwa pemerintah benar-benar rugi karena harus mengeluarkan subsidi bbm. Alasan lain beberapa negara tetangga kita menetapkan harga BBM(bahan bkr myk)yang jauh lebih tinggi dibanding harganya di Indonesia. Kami (penulis, ariyakw) selama ini menerima kebijakan pemerintah apa adanya tentang kenaikan BBM maupun TDS (Tarif Dasar Listrk negara) terus terang karena terpaksa. Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang berjuang agar BBm dan TDL tetap, artinya tidak naik.
TETAPI......
Saya setuju apa bila perjuangan saudara kita yang memasang perhatian khusus dan protes tentang kenaikan harga BBM,Bila pemerintah mau melakukan kenaikan bukan karena untuk menutup kerugian disebabkan subsidinya demi konsumer Indonesia, tetapi untuk menambah pendapatan semata. Memang beberapa dekade ini sejarah membuktikan khususnya maha siswa pada umumnya pemuda selalu maju dan bergerak bahkan berperan aktif demi kesejahteraan rakyat di beberapa negara, tapi tidak jarang pula maha siswa atau pemuda menjadi wayang nya orang-orang yang mempunyai kepentingan politik yang sempit. Contohnya gerakan JVP di Sri Lanka tahun 1980 an dan gerakan gerilyawan Tamil (LTT) liberation tamil tiger. Demo-demo demi dipertahankan demokrasi memang perlu. Namun sering kali demo itu sendiri kadang menjadi bumerang bahkan ancaman terhadap demokrasi itu sendiri. Jelas semua mengetahui apa itu demokrasi. Demokrasi tercipta untuk kebahagiaan dan kesejahteraan teraan orang banyak.Tetapi apakah kita bisa lupakan catatan sejarah yang tercatat yang meninggalkan kenangan pahit. sering kali demo berubah menjadi kerusuhan yang mengakibatkan harta benda dan sarana -prasarana umum seperti gedung ,mobil jalan bahkan tokoh dan rumah-rumah rakyat hancur rusak bahkan terbakar. Akhirnya perkelahian antara petugas keamanan yaitu polisi dan tentara menjadi anarkis karena demo demi demokrasi berubah menjadi demo demo-crazy yang meninggalkan kerusakan gedung, mobil bahkan lenyap serana-prasarana lainnya tidak sedikit. Selain itu, petugas atau aparat mahasiswa atau buruh dan petugas media masa dan dls mengalami luka, kehilangan anggota badan bahkan kehilangan nyawanya sekalian. Insiden-insiden seperti itu kadang membuat pertumpahan darah yang sia-sia. berapa pemuda/maha siswa yang genius berkorban dalam peristiwa semacam itu. Saya tidak sependapat bahwa mereka yang meninggal dalam peristiwa sosial seperti ini bahkan peristiwa demi keagamaan pun akan terlahir di sorga. Harapannya bahwa anak cucu mereka /generasi penerus akan menikmati kehidupan surgawi (maksudnya mewah) di bumi ini karena perjuangannya pun mustahil, seperti halnya simpan gula di kolam. Justru karena kehancuran harta kekayaan milik negara begitu banyak, maka kenaikan harga BBm TDL dan lain-lain menjadi alasan yang lebih kuat. bahkan menjadi keharusan, Oke. sarana-prasarana dapt kita bangun kembali tapi bagaimana orang-orang tua, saudara yang kehilangan anggota keluarga. orang-orang yang pinter yang pamit dari kita dalam peristiwa-peristiwa terdahulu. tentu orang-orang yang memiliki hati nurani tangis dalam hati ketika hal-hal itu terjadi hanya orang-orang tertentu yang tidak punya hati yaitu yang ingin memanfaat kan situasi krisis untuk kepentingan pribad ,kepentingan partai dan kepentingan politik. Waspadalah! pintar-pintarlah baca situasi apa bila berjuang demi bangsa, negara dan demkrasi.
Sabtu, 27 November 2010
CULLASILA (Moralitas Tingkat Awal)
Menghindari mengambil apa yang tidak diberikan
Menghindari ketidak-sucian, Pertapa Gotama hidup jauh darinya, jauh dari praktik kehidupan sosial hubungan seksual.10"
Menghindari ucapan salah,
Menghindari fitnah
Menghindari ucapan kasar,
Menghindari gosip, menjauhi merusak benih dan hasil panen menjauhi makan pada waktu yang salah
menghindari menonton tari-tarian, nyanyian, musik dan pertunjukan.
menghindari memakai karangan bunga, pengharum, kosmetik, dan perhiasan.
menghindari menggunakan tempat tidur yang tinggi atau lebar. menghindari menerima emas dan perak.
menghindari menerima beras mentah atau daging mentah,
tidak menerima perempuan atau gadis muda,budak-budak laki-laki atau perempuan, domba dan kambing, ayam dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina, ladang dan bidang tanah;15
menghindari
dari menjadi kurir,
dari membeli dan menjual,
dari menipu dengan timbangan dan takaran yang salah,
dari menyuap dan korupsi,
dari penipuan dan kemunafikan,
dari melukai, membunuh, memenjarakan, merampok jalanan, dan mengambil makanan dengan paksa.'
Anda boleh menanyakan hal-hal kurang jelas atau sampaikan usul serta komentar. Kami senang membantu. Ariya K.Wijaya
Kamis, 29 April 2010
SEJARAH BENDERA BUDDHIS
Hari ini adalah hari ulang tahun Bendera Buddhis dimana Umat Sri Lanka merayakan HUT yg ke-125. Mau baca sejarah singkat nya? Bacalah yang berikut.
SEJARAH BENDRERA BUDDHIS
Sejak kedatangan Yang Ariya Arahat Mahinda ke Sri Lanka dari Jambudipa (India) dan Agama Buddha tertanam dengan kuat, kemudian Hari Waisak menjadi Hari Libur National secara resmi. Hari libur istimewa ini dihentikan ketika penjajahan Belanda di Sri Lanka pada tahun 1770 oleh Bp. Gubernur Fork sedangkan hari minggu menjadi hari libur di jaman Bapak Gubernur tersebut. Hal ini merupakan pukulan berat bagi umat Buddha karena dengan menghentikan hari libur nasional Waisak yang diwarisi masyarakat
Pada 25 Maret 1883 terjadi suatu peristiwa terhadap kalangan umat Buddha yaitu prosesi atau pawai yang diadakan dari satu vihara di Borella ke vihara lain di Kotahena diserang oleh kelompok tertentu di mana satu patisipan di perahera / pawai meninggal dunia. Dengan terjadinya peristiwa ini salah satu Bhikkhu senior yang mengadakan pawai tersebut tergerak hatinya untuk berjuang demi kebebasan umat Buddha yang terancam dari berbagai pihak. Pemimpin dalam gerakan melawan diskriminasi, ketidakadilan bagi umat Budda ini adalah Yang Mulia Migettuwatte Gunananda Maha Thero. Beliau adalah ahli pidato yang menyelenggarakan dan memenangkan debat resmi melawan Kristen yang terkenal dengan Panadura Vada. Beliau mengadakan pergerakan tanpa kekerasaan = (ahimsavadi movement). Pada 27 Maret 1885, sebagai manfaat dan hasil dari gerakan tersebut kemudian muncullah suatu organisasi dengan sebutan (Bauddharakshaka komitiya) artinya Komite pelindung Buddhis. Tokok-tokoh yang mendirikan komite tersebut adalah: Y.M.Waskaduwe, Sri Subhuti Mahathera, Y.M.Hikkaduwe, Siri Sumanggala Maha Thera dan Colonel Henry Steel Olcott. Colonel Henry Steel Olcoot berasal dari Amerika yang pernah menjadi perwira militer dan pengacara yang menganut agama Buddha di SriLanka. Col. Olcott ini adalah salah satu tokoh yang menjadi pelopor mendirikan Teosopical Group yang akhirnya menjadi landasan untuk berkembang agama Buddha di Indonesia kembali.(ket.lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Henry_Steel_Olcott).
Kemudian Colonel berangkat ke Inggris menghadapi Ratu Elisebeth sebagai utusan dari Komite Pelindung Buddhis dengan membawa pesan yang berisi sejumlah permintaan agar menarik perhatian Pemerintah Inggris. Salah satu hasil yang terwujud dari misi Col.Olcott adalah adalah Hari Waisak resmi diterima sebagai hari libur Nasional dan umat Buddha
Dengan berita baru masyarakat
Rabu, 04 November 2009
Amabattha sutta from Digha Nikaya
Icchanamgala adalah nama lembah, sekaligus digunakan sebagai nama desanya di kota Ukkattha kerajan Kosala. Pada waktu itu Sang Buddha sedang berada di lembah tersebut, bersama lima ratus Bhikkhu.
Sementara itu brahmana Pokkharasati berdiam di sebuah Kota yang dipersembahkan oleh raja Kosala kepadanya, yang disebut Ukkattha. Mendengar kedatangan Sang Buddha ke daerah itu dan berita tersohor bahwa beliau adalah seorang yg maha suci, telah mencapai penrangan sempurna dan lain sebagainya; Brahmana Pokkharasati menyuruh muridnya, Ambattha untuk menemui Sang Buddha dan menyelidiki apakah beliau memiliki 32 tanda, agar memastikan beliau benar-benar seorang Buddha.
Ambattha berangkat bersama pemuda brahmana lainnya. Setelah bertemu Sang Buddha Ambattha saling hormat-menghormat tetapi sikap Ambattha kepada Sang Buddha tetap merupakan sikap tidak sopan. Sang Buddha menanyakan : “Apakah sikapmu terhadap orang-orang lebih tua, brahmana lainnya sama seperti ini. (karena Ambattha berbicara dengan Sang Buddha dengan sikap berdiri sambil jalan kesana kemari. Sedangkan Sang Buddha bersikapduduk?”) Ambattha menjawab “Tentu tidak; sikapku ini kulakukan kepada orang-orang tertentu seperti halnya yg. layak dilakukan dihadapan budak, orang hitam, yang telah diciptakan dari kaki Brahma (Ibbhavada = julukan sebagai budak orang rendah)”. Sang Buddha mengatakan “Ambattha merenungkanlah tujuanmu kemari.” Lalu berkata kepada hadirin (teman-teman Ambatta) “Saudara Ambattha merasa dirinya berpendidikan tapi dia sama selkali tidak terdidik oleh gurunya maka dari itu dia berkata kasar dan fitnah org. lain.” Ambattha menjadi marah lalu memaki-maki Sang Buddha “Orang-orang keturunan Sakya jahat, bicaranya kasar dan lain sebagainya. lalu mengulang kata-kata “ibbha” untuk kedua kalinya. Sakya orang yang rendah namun tidak mau meghormati menghargai brahmana yang lebih tinggi. ”Kemudian Sang Buddha bertanya“ Apa ada seorang Sakya yang menyakitimu?”. “Iya Gotama ketika itu saya berada di kota Kapilavatthu utk. suatu urusan. Aku mampir di Santhagara di kota itu. Para pemuda Sakya yang sedang berkumpul di Balai kota tidak menghargai saya, tidak menawarkan saya duduk. Mereka saling bercanda, berbisik-bisik dan tertawa-tawa sambil mencolek temannya. Tentu mereka menyindir saya, dasar budak.”
Lalu Sang Buddha berkata “Burung sekecil apapun bernyanyi gembira disarangnya sendiri demikan pula pemuda Sakya bercanda tertawa di kandangnya sendiri karena Kapilavatthu itu wilayah milik mereka sendiri. Hal kecil seperti itu tidak perlu dimasukkan ke hati, tidak perlu menjadikan alasan untuk menjadi dendam.” Lalu Ambattha menyebutkan empat kasta dan mengatakan Brahmana adalah kasta tertinggi. Lalu Ambattha megulangi “Ibbhavada” untuk ketiga kalinya. Setelah mendengar kata-katanya, Sang Buddha ingin membongkar rahasia keturunan Ambata. Sebelumnya Sang Buddha menanyakan silsilah keturunannya. Dia mengakui Kanha-Krisna adalah nenek moyang pertama.
Sang Buddha mulai bercerita “Ambattha, nenek moyang pertama Sakya adalah Raja Okkaka. Raja Okkaka menyuruh anak tertua keluar kota karena mau mengangkat adik mereka yang masih kecil menjadi pewaris tahta kerajaan. (awal mula suku Sakya, berdiam di hutan lalu menikah. Ayahnya dengar ucapkan sakya). Ada budak Raja Okkaka bernama Disa. Dia melahirkan anak (ayahnya tak jelas) orangnya jelek, bahkan menyeramkan (hitam….., bayangan masyarakat waktu itu tentang setan/Yakkha). Karena kau keturunan dari Kanha, berarti kau keturunan budak. Mungkin cerita keturunanmu itu yang menjadi bahan tertawaan suku Sakya waktu kau berada di Kapilavatthu.”
Setelah Sang Buddha mengembalikan kata-kata Ambattha yaitu, Sakya budak, rendah, tak menghormati Brahmana; yang merupakan majikan dls. Pemuda brahmana lainnya berkata “Ambattha brahmana baik sopan pintar dan berbicara ramah (sujato, kulaputto, bahussato, kalyanavakkharano sujato ca Ambattha manavo.”) Maka dari itu Ambattha tentu mampu menjawab Samana Gotama.
Sang Buddha mengembalikan kata-kata itu sendiri yaitu,“Dujjato, akulaputto, appssuto, akalyanavakkharano. Bila dia mampu menjawab; berhentilah anda sekalian. biarkanlah dia menjawab.” Sang Buddha menghimbau ambattha agar mengakui kebenaran tsb. untuk kedua kali dan ketiga kali. Vajrapani (seorg. yakkha) muncul dengan sebatang besi yang menyala lalu mengancam kalau dia tidak menjawab secara jujur pertanyaan Sang Buddha yang disapaikan sampai 3x, kepalanya Ambattha akan hancur berkeping-keping menjadi 7 potongan . Dia ketakutan, ingin melarikan diri tetapi tidak bisa, bahkan lupa apa yang baru saja dia dengar dari Sang Buddha. Lalu mohon agar Buddha mengulang. Sang Buddha “apakah demikian atau bukan yang anda pernah dengar dari kakek-kakekmu bahwa orang-orang keturunan suku kanha adalah bermula dari budak Sakya? Akhirnya dia menjawab, (pubbapurisa) Suku Kanhayana dan asal mulanya benar seperti kata Gotama. Hal itu dia pernah dengar dari kakek-kakeknya.” Teman-temannya menyesal yang bela Ambattha, lalu mereka berteriak “Ambattha anak budak. Gara-gara dia kami ikut memfitnah Samana Gotama.” Lalu Sang Buddha, untuk meringankan penghinaan Ambattha menceritakan kisah Krisna selanjutnya (belakangan Krisna menjadi orang hebat) dia bertapa, belajar mantra-mantra, kembali ke istana dan meminta putri Raja untuk dijadikan istri. Raja marah dan memasang panah kepadanya. Raja tidak dapat bergerak, diam bagaikan patung. Lalu para menteri mohon pengampunan demi Raja. Kalau panah dibiarkan lepas bisa mengakibatkan bencana yaitu Kerajaan hancur selama 7 tahun, tidak akan turun hujan. Para menteri memohon agar semuanya selamat. Kalau ingin selamat semua, panahnya harus dilepaskan ke anak sulung Raja. Mereka ketakutan, tetapi Krisna Risi menjamin panahnya dilepas kearah anak sulung Raja tanpa melukainya. Panah akan jatuh di depan pangeran.
Disini pula ada penjelasan panjang lebar tentang bagaimana ksatrianya lebih tinggi daripada Brahmana. Vijja dan Carana adalah ukuran yang lebih tepat untuk memutuskan orangyang paling tinggi. Orang yang memiliki kedua hal tersebut akan lebih tinggi; bukan diantara manusia melainkan Deva. Lalu Ambattha memohon penjelasan tentang Vijja + Carana.
Disini Sang Buddha uraikan bahwa (idha tathagato loke uppajjati sammsambuddho…dan sebagainya2 seperti diuraikan di Samannapahala dan beberapa sutta lainnya di Dighanikaya. Mulai dgn munculnya buddha di dunia ini, sampai dengan seorang Bhkkhu melenyapkan nivarana lalu lanjutkan sampai menjadi arahat. Prosesnya sama seperti di samannaphala sutta. Urutan uraiannya sbb;
Sila samvara = latihan sila
Indriya samvara = pengendalian indra
Sati sampajanna = perhatian dan
Santutthi = kepuasan
Samadhi = samadhi
Jhana = jhana
Dilanjutkan pencapaian pengetahuan batin sebagai berikut;
Vipassana nana\Nanadassana =
Manomaya iddhi =
Iddhividha nana =
Dibbasota nana =
Cetopariya =
Pubbe nivasanussati =
Dibbacakkhu =
Asavakkhaya =
=
Apa itu vijja dan carana? 8 nana di atas dinamakan pula sebagai
vijja.(Vipassana Nana, manomaya iddhi dls) di sutta lain dijelaskan hanya 3 macam pengetahuan sebagai tivijja yaitu 1.pubbe nivasanussati 2. dibbacakkhu 3. asavakkhaya nana. Sedangkan menurut paham brahmana tivijja adalah tiga veda.
Apakah carana itu?sila, indriya samvara, mattasita, jagariyanuyoga, saddha, hiri, ottappa, bahussuta,viriya,sati,panna,cattarijhanani
Apabila orang tidak berusaha dengan benar mereka tidak akan memperoleh Vijja + Carana. Misalnya seorang pertapa tidak akan berhasil mendapatkannya dengan berediam di hutan lalu hanya memakan makanan yang jatuh di hadapanya (dalam hal ini makan buah-buahan saja yang telah jatuh ke tanah.) Seorang pertapa yang mencari bahan makanan dari bawah tanah (ketela, kacangtanah dll) Seorang pertapa yang mendirikan gedung untuk deva apai lalu menyembah Deva api dan Pertapa yang mau hanya berdana kepada Samana / Pertapa.
Sang Buddha bertanya apakah engkau / gurumu telah memiliki Vijja-Carana tersebut. Dia mengakui mereka sama sekali tidak memiliki dan masih jauh dari tingkatan-tingkatan tsb.
Sang Buddha menjelaskan dengan bermacam-macam perumpamaan bahwa mereka mengakui memiliki Vijja tetapi sama sekali tidak memiliki Vijja sebenarnya. Lalu Ambattha pamit. Sebelumnya dia sempat menyaksikan 32 tanda Sang Buddha.
(disini, harus disebutkan 32 tanda)
Setelah kembali ke gurunya, dia menceritakan semua yang terjadi sewaktu bertemu Sang Buddha. Brahamana Pokkharasati lalu marah dan menendangnya krn dia tidak utamakan tugas yang diberikannya. Malahan menghiana Samana Gotama. Keesokan harinya dia pergi menemui Sang Buddha setelah beramah-tamah, berbicara tentang pertemuan dengan Ambattha, dan mohon maaf atas perkataan dan kelakuannya. Lalu Sang Buddha mengetahui Brahmana ragu-ragu tentang 32 tanda lalu memperlihatkannya. Kemudian dia memohon kepada Sang Buddha untuk menerima dana makanan darinya. Sang Buddha menerima permohonannya. Setelah tiba di rumahnya, dan menerima dana makanan. Setelah makan, Sang Buddha khotbah Dhamma Danakatha, Saggakatha, dll. Terakhir 4 ariya sacca. Lalu Pokkharasati mencapai tingkat kesuian pertama yaitu sotapatti phala dan menjadi upasaka. keluarganya serta semua pengikutnya menjadi Upasaka / Upasika.
Senin, 26 Oktober 2009
I have been waiting for An opportunity like this, to have my own blog to address you and make friends in order to exchange our knowledge and experiences that might be helpful for our life. If you have any question about our life shall we discuss together and find solution. Being a Buddhist may be my opinion or experience seems to have a close relation-ship with Buddhism, but I am sure anyone can agree or disagree with different opinions with reasonable arguments which eventually lead to the truth. This is just a beginning. see you later.